Sunday, March 3, 2013

Aku dan Saman - Bagian 2

Sebelumnya: Bagian 1

“Adik-adik, kami telah memilih lima orang, yang nanti akan dinilai lagi sepanjang masa latihan, untuk dipilih dua orang yang akan tampil,” kata Bang Fahri. “ Mereka adalah Anin, Ita, Fitri, dan Salmah, dari Tim B; serta Gendis  dari tim C.”
Aku terpana. Seluruh anak kelas X bersorak gembira.
“Selamat ya, Gendis,” sapa Kak Meutia, mengejutkan Gendis. “Gerakan kamu sudah makin bagus, makin kuat.”
*
Empat hari berlalu sejak terpilihnya lima nominasi peserta lomba. Mereka harus berlatih tiap hari, kadang di sekolah, kadang di rumah Kak Mei. Namun Kak Ita yang menjadi petugas penghubung, tak pernah mengabari Gendis. Ia pontang-panting mencari informasi waktu dan tempat latihan, dan selalu hadir terlambat. Bahkan kemarin ia tak dapat ikut latihan. Saat bertemu Kak Salmah di perpustakaan, ia jelaskan situasinya. Menurut Kak Salmah, mungkin kakak-kakak kelas itu sengaja menghalangi kehadiran Gendis. Kak Salmah akhirnya yang selalu mengabari Gendis. Sejak saat itu Gendis selalu hadir tepat waktu. Kak Salmah pun makin akrab dengannya, namun yang lain tampaknya justru semakin sinis dan tak senang terhadap Gendis. Seminggu menjelang lomba, Bang Fahri dan Kak Meutia mengumumkan hasil seleksi.
“Setelah kami menilai penampilan para calon pengganti dua minggu ini,” Bang Fahri berhenti sesaat, “Saya dan Kak Meutia memutuskan, yang akan tampil adalah Anin dan Gendis.”
Aku sungguh bahagia. Ingin teriak, tapi tak ada suara yang keluar. Kak Salmah menyalamiku, semua teman memberi selamat. Juga Kak Ita dan Kak Fitri, meski aku merasakan gelombang iri hati mereka. Rasa bahagiaku tiba-tiba menurun.
*
Hari Lomba, Sabtu. Seluruh anggota Tim berkumpul di sekolah sejak pukul enam pagi, untuk rias wajah dan busana. Pukul sembilan mereka berangkat bersama dengan bus sekolah. SMA 207 akan tampil di urutan kedua. Ternyata tim yang seharusnya tampil pertama, tak hadir. Gendis dan kawan-kawan harus tampil. Demam panggung menyerang. Seluruh tubuh Gendis gemetar. Kak Mei mengajak anggota tim berdoa bersama, sebelum melangkah ke panggung.
Ketika kaki menapak panggung, seiring doa di hati, kekuatanku kembali. Aku sudah berlatih keras, jalani semua usaha. Ini saatnya lakukan yang terbaik. Suara Bang Fahri mengalun.
Hai… dengalon kisah dengalon kisah has bo hai baran
bayan tereubang bayan tereubang kajiden cet jeumpa
di langit bintang di langit bintang, kajide mo pageu
bulen ate gle bulen ate gle melele asa…
Aku bergerak mengikuti alun suara Bang Fahri, berpadu, menyatu dengan irama. Sorotan lampu panggung, membuatku tak melihat jelas situasi sekitar. Aku terus bergerak. Hanya gerak.
Gemuruh tepuk tangan mengembalikanku ke panggung. Ucapan selamat menyambut saat kami turun panggung. Ada Kak Ida, juga Kak Dewi yang masih bertongkat. Aku lelah.
“Gendis, selamat yaa… Kamu bagus banget,” suara ceria menyapaku dari samping.
“Eeh…Jinan! Apa kabar…? Kamu ikutan juga?” Jinan sahabat SMPku.
“Iyaaa nih… Grogi deh. Aku tampil urutan tiga nanti.”
“Tenang aja… nanti juga hilang groginya.” Jawabku meyakinkan.
Sepanjang siang sampai sore, Gendis bercengkerama dengan Jinan dan Thea. Waktu lewat tak terasa. Tiba saatnya pengumuman lomba. Sekolah Jinan memperoleh Juara Harapan I, mereka semua turut bersorak-gembira. Jura tahun lalu SMA 99, kali ini hanya ada diurutan III. Dan ketika Juara I diumumkan, ternyata SMA 207. Sorak dan selamat seakan tak habis-habisnya.
Kak Mei memelukku sambil berlinang air mata. Kami semua sangat bahagia. “Selamat Gendis, pertahankan terus ya…” kata Kak Ida seraya menyalamiku. “Tahun depan, kamu yang memimpin.” Aku kaget di tengah suasana gembira. Wah…
Tapi biarlah, itu urusan nanti. Sekarang saatnya berbahagia bersama. Bahkan Kak Anin pun memelukku hangat.

Aku dan Saman - Bagian 1

“Gendis!” aku menoleh, dan melihat Thea berlari kecil menghampiriku. “Udah tau? Kak Dewi kecelakaan motor, loh…”
Aku tersentak kaget. “Ah, yang bener Kok bisa?” Masih tak percaya.
“Iyaaa. Kemarin, Kak Dewi ditabrak dari belakang sama anak cowok yang lagi kebut-kebutan,” Thea memulai ceritanya, sementara kami bergegas menuju pendopo sekolah.
Selasa sore, pendopo sekolah dipenuhi peserta ekskul Tari Saman SMA 207 Jakarta. Hari ini ada rapat khusus. Peserta ekskul Tari Saman lebih dari 60 orang, dibagi jadi empat tim. Gendis tergabung dalam Tim C, Thea di Tim D.  Thea baru belajar, tapi Gendis sudah mengikuti ekskul Tari Saman sejak SMP. Ia memang penggemar tari. Di luar sekolah ia berlatih di sanggar tari Jawa. Naik ke pendopo, Gendis dan Thea segera bergabung dengan yang lain. Kak Mei, ketua ekskul Tari Saman, baru saja memulai sambutan pengantarnya.
“Teman-teman dan adik-adik sekalian, hari ini kita mendapat kabar buruk. Salah satu teman kita, Dewi, mengalami kecelakaan motor,” Kak Mei berhenti sejenak.
Pendopo hening, sepertinya angin berhenti bertiup. Sesaat Kak Dewi tergambar di ingatanku. Jika tersenyum, lesung pipitnya manis sekali.
Beberapa menit lalu, saya juga dapat SMS dari Azizah,” kak Mei melanjutkan, “Dia sedang dirawat di rumah sakit, usus buntu. Mungkin akan dioperasi.”
Aduuuh, banyak sekali kabar buruk hari ini. Udara pendopo tiba-tiba terasa sesak. Suara dengung terdengar di sekeliling, semua sedang saling berbisik. Thea menyentuh lenganku, tapi belum sempat dia berkata apupun, Kak Mei mulai bicara lagi.
“Mohon perhatian sebentar!” suara Kak Mei meninggi. “Dewi dan Azizah tidak bisa ikut Lomba Tari Saman dari Dinas Kebudayaan di Bulungan, waktunya tinggal tiga minggu lagi. Maka timku, Tim A, kekurangan orang. Bagaimana kalau penggantinya dari tim B?”
Semua diam, sebagian mengangguk setuju.
“Baiklah, pengganti akan ditentukan besok ketika kita latihan dengan Bang Fahri.”
Semua mengangguk lagi.
“Tapi perlu diingat, Tim B rencananya akan ikut Festival Saman di SMA Al Hidayah, dua bulan lagi. Jadi jadwal latihan perlu diatur dengan baik,” Kak Mei melanjutkan.
Pembahasan berlanjut tentang jadwal latihan, pakaian seragam, uang iuran, dan aneka hal lain. Aku suka Tari Saman, tapi tak tertarik dengan masalah organisasi. Lagipula, biasanya kakak-kakak kelas XI yang mengatur itu semua. Thea senang berorganisasi, tapi sekarang dia sedang sibuk berSMS. Udara sore yang hangat memberatkan mata. Perutku pun mulai lapar.
Plok…plok….plok. Tepukan tangan Kak Mei mengheningkan suasana. “Besok kumpul lagi di sini. Jangan lupa, bawa kaos dan legging. Untuk ganjil kaos warna hitam, genap kaos putih,” Kak Mei berhenti sesaat.“Ada yang masih kurang jelas?”
Tak ada yang bertanya. “Baiklah, pertemuan hari ini cukup sampai disini.”
Serempak anak kelas X menjawab, “Terima kasih, Kakaaak.”
Esok harinya. Pendopo sudah mulai dipenuhi anggota ekskul Tari Saman. Kak Ida juga hadir, alumnus yang sekarang kuliah di IKJ. Lima tahun lalu ia ketua ekskul Tari Saman. Saat itu, sekolah mereka jadi juara Tari Saman se Jakarta Selatan. Prestasi yang belum pernah tercapai lagi. Tak lama kemudian, Bang Fahri datang bersama seorang wanita berusia akhir 20an. Terdengar bisik-bisik di sana-sini, kebanyakan menyangkanya sebagai pacar Bang Fahri.
“Bukannya Bang Fahri sudah berkeluarga?” bisik Kak Salmah kepada Thea.
“Kayaknya sih,” jawab Thea, “Tapi gak tau ah… Ndis, kamu tau gak? Perempuan itu siapa sih? Yang di sebelah Bang Fahri.”
“Namanya Kak Meutia,” jawabku. Dia masih kenal aku gak ya?
“Haaah. Kamu kenal?” Hampir berbareng Thea dan Kak Salmah menanyaiku. Belum sempat kujawab, suara Kak Mei sudah terdengar, keras. Semua langsung diam.
“Mohon perhatian sebentar!” seru Kak Mei. “Hari ini ada banyak tamu. Semua pasti sudah kenal Kak Ida. Selamat sore Kak…” salam Kak Mei sambil mengangguk ke arah Kak Ida.
“Selamaaat soreee Kaaak Idaaa…” semua turut mengucap salam. Kak Ida hanya tersenyum sambil melambaikan tangan. Jarinya panjang dan lentik.
“Dan ini Kak Meutia,” lanjut Kak Mei. “Untuk sementara akan melatih di sini.”
Kak Meutia juga melambaikan tangan.
“Selamaaat soreee Kaaak Meutiaaa…” semua kembali mengucap salam. Kak Salmah dan Thea melirikku. Dua wajah yang terheran-heran memaksaku tersenyum.
“Untuk persiapan lomba, Bang Fahri akan konsentrasi melatih Tim A,” lanjut Kak Mei, “Yang lain sementara akan dilatih oleh Kak Meutia.”
Dengung jelas tak jelas memenuhi pendopo, sementara aku sempat berbisik ke Kak Salmah dan Thea, “Kak Meutia dulu pelatih Samanku di SMP.” 
Belum sempat aku cerita panjang, suara Kak Mei sudah terdengar lagi. “Pengumuman! Semuanya, coba dengarkan! Ada perubahan rencana.” semua suara langsung lenyap. “Barusan aku diskusi dengan Bang Fahri, Kak Meutia, dan Kak Ida. Menurut mereka, untuk pengganti Dewi dan Azizah, sebaiknya dilakukan pemilihan dari tiga tim, B,C, dan D.”
“Mei!” sela Kak Anin. “Ini nggak adil dong, kalau anak kelas X juga dapet kesempatan. Harusnya khusus untuk kelas XI!” banyak yang berseru menyetujui perkataan Kak Anin.
Terjadi keributan sesaat ketika anak kelas XI bersikeras bahwa kelas X tidak boleh dapat bagian. Hana berbicara, memperjuangkan kepentingan Kelas X. Teman-teman kelas X hanya diam. Aku juga diam saja, walau dalam hati aku ingin pula bisa tampil dalam lomba. Kalau terlalu banyak yang bersuara, akan lebih lama lagi masalahnya selesai.
Suara Bang Fahri menghentikan keributan. “Sebentar, Adik-adik. Kalau yang boleh ikut hanya kelas XI saja, bukankah itu yang tidak adil?”
Semua diam. Tak lama dengung terdengar lagi. Ada juga kakak kelas yang membenarkan perkataan Bang Fahri. Namun, masih banyak juga yang tak setuju. “Kelas X nanti akan dapat gilirannya, Bang. Kalau mereka sudah kelas XI,” seru Kak Fitri.
“Boleh saya sedikit cerita, Adik-adik,” sela Kak Ida, “Ketika kami dahulu menjadi juara se-Jakarta Selatan, tim kami terdiri dari berbagai angkatan. Yang penting, merekalah yang terbaik. Karena kami mewakili sekolah, bukan hanya mewakili satu angkatan.”
Semua terdiam, mungkin merenung.
“Saya setuju,” kata Kak Meutia, “Yang tampil, adalah yang terbaik di sekolah ini.”
Tak ada suara apapun.
“Jadi kita bisa sepakat, yaaa…,” seru Kak Mei, “pengganti Dewi dan Azizah akan dipilih dari Tim B, Tim C, dan Tim D. Pemilihan dilakukan oleh Bang Fahri, Kak Meutia, dan Kak Ida.”
Kali ini tak ada lagi suara membantah.
“Ayo kita mulai saja,” kata Bang Fahri, “Persiapan sepuluh menit. Pilihan bebas, boleh menampilkan gerakan yang mana saja.” jelas Bang Fahri.
Aku berdoa khusuk sebelum giliran kami. Pada saat tampil, aku berusaha konsentrasi penuh, menghayati setiap gerak, merasakan aliran di pembuluh darahku, menggerakkan otot-otot tubuhku. Kami menampilkan Gerakan Lale.
Lale-lale geu tanyoe lale
Hanajan tathe omu ka tuha…
Setelah ketiga tim tampil, Tim A mulai latihan. Sementara Bang Fahri, Kak Meutia, dan Kak Ida berunding di sudut. Yang lain menanti dengan cemas. Hampir setengah jam berlalu, ketika akhirnya Bang Fahri menuju ke tengah pendopo, siap menyampaikan hasil seleksi.

Selanjutnya: Bagian 2

short story - part 3


***
Dua hari telah berlalu setelah aku bertemu cowok yang sangat tampan itu di kafe. Sekarang, aku harus menemani Jess ke mall. Karena dia janji akan mengembalikan CD lagu teman SD-nya yang sudah lama dia pinjam.
Aku dan Jess sudah berada di mall. Kami menunggu teman SD Jess di sebuah  food court. Kami menunggu cukup lama sampai seorang cowok berkacamata, tinggi, putih, mengahampiri kami. Ternyata dia Andre, teman SD Jess yang CD-nya dipinjam Jess selama tiga tahun lebih. Mereka berbincang sebentar. Jess mengembalikan CD itu, Andre menerimanya. Jess bertanya, Andre menjawab. Kadang, Andre bertanya dan Jess menjawab. Oke, mereka mengacuhkanku sekarang, tidak masalah, aku juga tidak mengerti apa yang mereka bicarakan. Semacam komik mungkin, dua-duanya penggemar berat komik dan negeri Sakura.
Akhirnya aku bangkit dan beranjak menuju toilet. Aku sebenarnya tidak tahu mengapa aku ke toilet. Aku hanya merasa kalau aku harus ke toilet sekarang, entah kenapa. Aku hanya berkaca sebentar dan mencuci tangan, kemudian memutuskan kembali.
Ketika aku kembali ke meja Jess, ternyata ada satu teman Andre. Mereka berbincang bertiga, aku memperhatikan dari jauh, melangkah perlahan. Kemudian Andre dan temannya segera pergi, dan Jess langsung menghampiriku yang berdiri tidak jauh dari tempat Jess.
“Andre berubah sekali sejak SD. Dia tampan sekarang.” Jess mulai becerita.
“Tadi teman Andre?” tanyaku. Jess mengangguk.
“Ternyata, mereka juga ada di kafe sewaktu kita janjian dua hari yang lalu. Temannya itu, cowok yang kau bilang tampan.” Aku segera menatap Jess serius. “Maafkan aku, aku tidak sempat menanyakan namanya.” Aku menghela napas panjang. Jess terlihat bersalah tapi hanya sebentar. Kemudian segera bercerita lagi, panjang-lebar, tentang Andre.
Sejak mengetahui cowok yang kutemui di kafe adalah teman Andre yang merupakan teman Jess, aku terus meminta Jess untuk menanyakan namanya. Tapi, Jess sendiri tidak pernah lagi bertemu Andre, bahkan dia lupa menanyakan nomor ponsel cowok pujaan hatinya sekarang. Aku sendiri hanya bisa menghela napas panjang, berusaha tidak kecewa. Namun aku berpikir, kalaupun aku memang jodoh dengannya (Amin!) pasti aku akan bertemu lagi.

***

18 Juni 2010
Aku bersekolah di sebuah yayasan, yang terbagi menjadi dua sekolah. Sekolah putri dan putra. Aku dan Jess berada di sekolah putri. Hari ini adalah ulang tahun yayasan sekolahku. Murid putra boleh masuk sekolah kami, begitu juga sebaliknya. Tidak seperti hari biasa, yang melarang murid putra masuk sekolah putri dan sebaliknya.
Acara ulang tahun yayasan sekolah kami, seperti acara sekolah lainnya. Bazar, band, pentas seni, pertunjukan ekstrakurikuler, penampilan kelas, dan sebagainya.
Aku dan Jess sedang berkeliling di sekolah putra. Kami tidak menjadi panitia apapun, tidak menampilkan apapun, tidak juga mendapat tugas membantu di kelas kami. Dan kami senang karenanya, karena kami bukanlah orang yang mau repot. Aku sedang menghampiri sebuah stand yang menjual lukisan karya murid. Aku memang kolektor lukisan, walaupun aku bukan pelukis. Aku menatap sebuah kanvas yang di atasnya ada tujuh warna pelangi, dengan warna dasar biru muda bersih. Hanya itu. Aku sangat mengagumi lukisan itu. Tidak ragu-ragu aku menanyakan harganya dan segera membelinya.
“Bagus yaa??” tiba-tiba sebuah suara mengagetkanku. Aku segera mengangkat wajahku dari lukisan dan menatap orang yang sudah berdiri di depanku.
Cowok itu, cowok yang kutemui di kafe. Yang sepertinya pernah kutemui sebelumnya. Yang merupakan teman Andre, teman Jess. Melihat wajahnya sedekat ini, membuat jantungku berdegup dua kali, bahkan tiga kali lebih kencang dari biasanya. Aku sempat menahan napas sedetik-dua detik. Aku dapat mencium aroma tubuhnya, sangat wangi. Jarak kami bahkan tidak lebih dari dua meter. Satu meter mungkin.
Dia tersenyum. “Hei...” aku tersentak kaget. “Lukisannya bagus yaa??” ulangnya. Aku bergantian menatap cowok itu dan lukisan, kemudian tersenyum dan mengangguk.
“Kamu pelukis?” tanyanya.
Aku menatapnya, “Sayangnya bukan. Aku bukanlah seorang pelukis, tapi aku hanya seorang kolektor lukisan.”
“Kalau begitu, kau harus membeli lukisanku. Karena aku pelukis.” Dia tersenyum, kemudian tertawa. Aku menatapnya, dan akhirnya tertawa.
Kemudian, kami diam. Tak ada yang memulai pembicaraan. Tiba-tiba aku menangkap sosok Jess sedang berjalan bersama Andre melihat semua stand yang ada. Jess tersenyum bahagia, begitu juga Andre. Sepertinya mereka memulai kisah yang baru.
“Hei, sepertinya kita pernah bertemu,” kata cowok itu tiba-tiba. Aku menatapnya.
“Mm, mungkin. Kau teman Andre, kan?” Cowok itu mengangguk. “Kata Jess, kita pernah bertemu di kafe, tapi aku tidak melihat Andre.” Oke, kenapa aku bicara begitu? Bukankah itu artinya aku mencari tahu tentang cowok itu? Aduuuuhh...
“Ya, berarti kau cewek yang memperhatikanku dan ketika aku tersenyum kepadamu kau hanya memberikan seringai.” Cowok itu tertawa kecil, sedangkan aku menahan malu. “Tidak, maksudku, sebelum itu.” Nah kan?! Apa benar aku sudah pernah bertemu cowok itu sebelum di kafe?
Cowok itu tampak berpikir sebentar kemudian dia tersenyum. “Aku tau! Aku tau!” aku menatapnya penasaran. “Kau... cewek yang menabrakku di acara museum waktu itu, kan?” aku melongo. “Nah, tentu saja! Pantesan, rasanya wajahmu tidak asing lagi.”
Benarkah itu? Dia adalah cowok yang kutabrak di museum? Yang mengacak puncak kepalaku? Dan, cowok yang kutemui di museum adalah cowok yang sama dengan yang kulihat di kafe? Sepertinya memang begitu.
“Sepertinya kau kaget.” Katanya. Aku menatapnya dan tertawa malu
“Ryan...” cowok itu mengulurkan tangannya. Akhirnya aku tau namanya.
Aku tersenyum dan menyambut uluran tangannya, “Debby...”
“Hm, Debby, mau kutunjukkan lukisan buatanku? Mungkin kau tertarik dan berniat membelinya...”
Aku tertawa, tapi segera berkata, “Dengan senang hati..” dan menyusul Ryan yang sudah berjalan mendahuluiku.

***

Selesai! Terima kasih telah membaca salah satu cerpenku. Ini merupakan cerita yang kubuat pada tahun 2010, dan aku sadar masih banyak kekurangan dalam segi penulisan, pengembangan karakter, latar, dan sebagainya, oleh karena itu, kritik dan sarannya sangat di tunggu :) Aku masih belum tahu judulnya apa ._. Ada ide? Terima kasih, sekali lagi :D

KUPER SUPER (part 2)

Sebelumnya: Part 1
***

Esok hari…
Julia memasuki kelasnya dengan tenang. Dia celingukan setelah menyadari baru segelintir orang yang datang. Bahkan Tessa pun belum datang.
Julia menyimpan tasnya di loker sebelum beranjak lagi ke luar kelas, untuk berjalan memutari sekolah dari lantai tiga, tempat kelasnya berada, ke lantai satu, kemudian kembali ke lantai tiga.
Julia berjalan-jalan sambil memandangi wajah setiap orang yang dilewatinya. Padahal, selain Tessa dan teman-teman sekelasnya, Julia tidak mengenal siapa pun. Julia juga melakukan hal yang sama di lantai dua. Dan begitu juga di lantai satu. Sampai akhirnya dia bertemu dengan Tessa yang baru turun dari mobil.
Lantas, Julia tersenyum tipis sebelum akhirnya kembali menekuni perjalanan rutinnya.
Teeettt… Teeettt…
Julia yang sempat melamun sebentar, langsung tersadar dan segera berlari ke kelasnya untuk mengambil topi, dan kembali berlari turun sebelum tangga dipenuhi kerumunan manusia yang ingin apel pagi.
Istirahat…
Julia sedang asyik duduk-duduk sambil melamun di tempatnya, sampai dikagetkan oleh Tessa.
“Julia? Kamu…mau nggak? Kebetulan hari ini aku bawa bekal salad. Kamu mau?” tawar Tessa. Julia melirik sekilas dan dia langsung tergoda.
“Boleh?” tanyanya ragu. Tessa mengangguk mantap walau masih malu-malu dan menyerahkan garpu yang tidak dia pakai ke Julia. Julia dengan segera memakannya.
“Heemm! Enak! Enak banget!” seru Julia senang. Tapi dia masih tidak percaya, seakan berada di alam mimpi.”Ehm! ternyata memang beneran enak! Nggak mimpi!”
Tessa dan beberapa anak yang ada di kelas menatap Julia bingung. Mereka penasaran, apa yang terjadi pada Julia yang biasanya pendiam, dingin, dan jutek, berubah menjadi periang, suka tertawa, dan tersenyum.
“Oh ya! Makasih ya! Ini enak banget!” seru Julia lagi masih senang.
“Kenapa Julia nggak makan?” tanya Tessa pelan.
“Hah? Kenapa nggak makan? Yaaa, males aja. Bukan lagi diet sih, tapi aku dari dulu memang males makan.”
Setelah itu semua kembali terdiam dan melakukan kegiatan masing-masing, seolah percakapan yang terjadi sesaat tadi itu tidak pernah terjadi.
Esoknya saat istirahat…
“Julia!” panggil Tessa pelan. Julia hanya melirik sebentar kemudian kembali berkutat dengan rumus fisika.
“Ini…aku bawain kamu bekal makan siang. Menunya omelette. Kamu mau?” tawar Tessa.
“Hah? Kamu serius?” seru Julia. Tessa mengangguk sedikit. Kemudian memberikan kotak makan itu ke Julia.
Julia membuka tutupnya dan isinya omelette dan kentang goreng.”Hmm, makasih ya!” Julia langsung makan dengan lahap.
“Iya, sama-sama!”
Julia buru-buru menghabiskan makanannya dan bertanya,”Yang masak ini semua siapa sih?”
“Ini? Ya…aku yang masak. Iseng-iseng aja ngga ada kerjaan. Hehe!” kata Tessa sambil tersenyum.
“Wah! Kamu hebat ya…” balas Julia.
“Makasih! Aku emang hobi masak koq.”
Besoknya terjadi hal yang sama, Tessa membawakan Julia bekal lagi. Dia terus melakukan itu sampai suatu hari, di saat sedang isitrahat pertama, Julia memulai pembicaraan ini dengan Tessa. “Aku nggak enak banget nih sama kamu! Kamu nggak perlu ya besok-besok bawain aku bekal lagi. Selain itu, jangan sampai aku ngerepotin kamu.” Tessa mengangguk-angguk setuju.
Saat dalam perjalanaan pulang, Julia melewti papan buletin di dekat Ruang Perpustakaan, sambil tak acuh membaca sekilas aneka pengumuman yang terpampang di situ. Tiba-tiba matanya menangkap satu bagian yang menarik. Langsung saja dikeluarkannya notes, dan mencatat yang penting-penting. Julia tersenyum senang sambil berlari ke arah parkiran sepeda.
Besok hari…
“Tessa! Tessa!” panggil Julia senang dari depan pintu kelas. Julia sengaja datang agak siangan agar tidak perlu menunggu datangnya Tessa.
“Apa?” tanya Tessa begitu Julia kembali dan duduk di sebelahnya sambil membawa buku notes. Julia membuka notes itu, mencari catatannya kemarin dan menyerahkannya ke Tessa.
“Lomba memasak antar sekolah? Hari sabtu, 24 Januari? Terus…apa hubungannya sama aku?” tanya Tessa bingung. Setelah mendapati wajah Julia yang tersenyum senang, Tessa langsung merengut.”Nggak! Nggak! Aku nggak mau! Enak aja!”
“Ayo dong, Tessa! Ini kan untuk menunjukkan bahwa kamu tuh bisa! Hebat! Ya? Ya?” pinta Julia.
“Nggak ah!” tolak Tessa lagi.
“Yaa, tapi aku sudah mengambil formulir buat kamu. Gimana dong?” Julia mengeluarkan formulir dari saku bajunya.
“Memang kalau sudah ngambil formulir harus ikut ya?”
“Nggak sih. Tapi, buat apa dong formulir ini kalau sudah aku ambil tapi tidak aku pakai? Buat pesawat-pesawatan?” Julia memasang tampang memohon.
“Hhh, baiklah!”
“Oke! Nanti sore kita latihan ya? Kan lombanya tinggal tiga hari lagi! pulang sekolah ke rumah kamu ya?!” seru Julia semangat.
“Ta-tapi, nanti ada acara di rumah aku. Orang tuaku lagi menerima tamu terhormat gitu. Ka-kalau di rumah kamu bisa nggak?”
“Mmm, bisa sih…aku kan tinggal berempat sama ayah, bunda, dan nenek. Kebetulan mereka semua, kalau aku nggak salah ingat, pulang malam. Tapi kalau nggak pun, aku bebas memakai dapur. Gimana?”
“Ngg, oke deh!” Tessa tampak ragu tapi Julia langsung memeluknya senang.
Pulang sekolah…
Julia dan Tessa berboncengan naik sepeda mengayuh dengan semangat ke arah rumah Julia yang memang agak jauh dari sekolah. Butuh waktu dua puluh menit dengan sepeda. Namun, mereka berdua tetap bersemangat.
Benar kata Julia, rumahnya memang kosong! Hanya ada beberapa pembantu yang sedang makan. Setelah bersiap-siap—cuci tangan, memakai celemek—mereka mulai menggunakan bahan-bahan yang ada di kulkas.
Setelah memilah-milah sebentar, akhirnya Tessa memutuskan membuat salad yang pernah dibawakannya untuk Julia di sekolah.
Kurang lebih satu jam Tessa berkutat dengan bahan-bahan makanan dan berbagai macam bumbu di dapur. Sementara itu, Julia asyik main PS di ruang keluarga, karena tugasnya —menata meja makan— sudah selesai sedari tadi.
“Juliaaa! Ini saladnya sudah jadi!” seru Tessa. Julia segera berlari turun dan dengan segera mangambil salad dalam porsi yang sangat banyak.
“Jangan banyak-banyak! Nanti kamu gendut!”
“Makan salad kok gendut! Lagian, kalau gendut juga nggak apa-apa.” Julia sih cuek saja dengan penampilannya.
Mereka mencoba beberapa makanan penutup yang mengasyikkan. Dan akhirnya membuat ice cream ceri. Setelah kenyang berpesta, Tessa pulang. Dan rencananya mereka akan terus berlatih di rumah Julia sampai hari perlombaan tiba.
Dua hari penuh mereka berlatih bersama. Sebenarnya bukan ‘mereka’ tapi Tessa. Julia kan hanya membantu sedikit-sedikit dan itu bukan di bagian masak-memasak. Bisa hancur masakan bila Julia yang menanganinya.
Hari ini, hari pertandingan. Tessa sudah menempati meja yang ada. Bahan-bahan sudah disediakan oleh juri. Pertandingan kali ini jenis masakannya ditentukan oleh juri.
“Semua peserta sudah siaapp??!!” seru sang MC kencang. Para peserta menjawab ‘siap’ dengan sangat amat bersemangat, tidak terkecuali Tessa, yang pendiam. “Pertandingan dimulai pada pukul sembilan dan selesai pukul dua belas! Yang sudah selesai, harap menekan bel di meja masing-masing!” tambah MC itu, makin semangat.
“Juri menentukan kalau kalian harus memasak aneka sup! Bahan-bahannya sudah disediakan dan kalian tinggal membuatnya! Kalian mau memmbuat sup apa, terserah! Yang penting, enak! Hahaha! Kalian semua siap?? Kalau begitu, pertandingan memasak kali ini DIMULAI!!” seru sang MC berkoar-koar.
Tessa membuka kotak bahan makanannya dan mulai meneliti. Setelah berpikir sebentar, Tessa memutuskan untuk membuat cream soup. Tangannya yang sudah terbiasa bekerja, mulai memotong dan mengiris bahan-bahan. Setelah selesai, dia berpindah, mulai memanaskan panci air, sambil menyiapkan bumbu-bumbu.
Julia yang menonton dari tempat paling depan, tetap memasang wajah datar walau hatinya berdegup kencang. Dia berusaha setenang mungkin karena melihat Tessa yang juga amat tenang.
Waktu sudah berjalan satu jam, tapi Tessa belum juga menekan bel. Julia semakin deg-degan.
Jam sudah menunjukkan pukul sebelas dan Tessa belum juga selesai, membuat Julia semakin gemas.
Pukul sebelas lewat dua puluh menit, tangan Tessa meraih bel dan menekannya. Julia menghela napas lega dan tersenyum senang. Sekarang, Tessa sedang diwawancarai tentang cara pembuatan dan bahan yang dipakai. Julia yang sedikit mendengar hanya tersenyum.
Ternyata, bahan yang dipakai Tessa sangat sederhana. Dia memakai bahan-bahan untuk membuat cream soup seperti biasanya. Hanya saja, kata Tessa, dia menambahkan rasa percaya diri yang ditanamkan sahabat barunya, rasa sayang kepada sahabat barunya, dan rasa percaya kepada sahabat barunya. Dan Tessa bilang, dia juga membuang beberapa bahan, antara lain, rasa malu dan rasa nggak percaya diri.
“Baiklah! Karena sudah jam dua belas dan semua peserta sudah selesai, kita langsung umumkan saja pemenangnya yaa!!” seru sang MC.
“Juara ketiga dulu nih…selamat untuk…Rahmita Sari dari SMPN 888!! Tepuk tangannya doong!!” teriak MC nggak kalah semangat. “Heemm, juara duanya siapa nih yaa?? Oke! Oke! Kasih tepuk tangan dong buat Kokok Dharma Putra dari SMP Jaya Raya!!” MC berseru kencang.
“Duuhh, juara pertamanya siapa yaa?? Deg-degan nihh!! Oke deh! Langsung saja kasih selamat ke…Prita Tessalonika dari SMP Merdeka!!! Yeaahh!! Ayo, mana yang namanya Prita?!”
“Sa! Kamu tuh juara satunya! Selamat yaa!!” seru Julia sambil mendorong pelan Tessa untuk segera naik ke panggung. Setelah menerima hadiah masing-masing, semuanya langsung kembali ke teman dan sahabat mereka. Tapi yang paling penting buat Tessa adalah Julia. Tessa nggak perlu lagi mencari sahabat seperti dulu, karena sekarang sudah ada Julia!
Selagi sibuk mengamati hadiahnya sambil mengobrol dengan Julia, tiba-tiba Tessa dikejutkan oleh tepukan keras di punggungnya. Ternyata Welbi. Di sebelahnya, sambil cengar-cengir Geri mengulurkan tangan, “Selamat yaa… kuper, lo emang super!” Tessa menyambut uluran tangan Geri, juga Welbi, yang terus berteriak lantang, “Kuper…! Super…!” Rupanya ia senang sendiri mendengar istilah temuan pasangannya itu. “Lo juga perlu dikasih selamat Kuper Dua, lo kan manajernya, ya kan?!” lanjut Welbi sambil mengulurkan tangan kepada Julia. Tapi Julia tidak menyambutnya, bahkan membungkuk mencopot sepatunya. Pasangan bengal-berisik Geri-Welbi agaknya cukup waspada, sebelum sepatu Julia melayang, mereka sudah langsung lari serabutan sambil berteriak-teriak, “Awasss! Duet Kuper ngamuk…!”
Sepatu Julia meluncur tanpa menyentuh sasarannya. Tessa hanya tersenyum tipis, malu-malu. Tapi, ia sungguh bahagia.
Jakarta, 15 Januari 2009
Elok R. Sasisuci

Monday, February 28, 2011

short story - part 2

Sebelumnya: Part 1
***
21 Mei 2010, 16:15

Aku sedang berada di sebuah kedai pasta, dan aku sudah menunggu 15 menit, tapi Jess—kependekan Jessica—tidak juga menampakkan dirinya. Aku kembali menyesap milkshake vanila-ku yang sudah berkurang setengah sejak kupesan beberapa saat yang lalu. Aku mencoba menghubungi Jess, tapi dia selalu bilang hal yang sama, “Aku sebentar lagi sampai. Tenanglah,” atau “Bukan kemauanku kalau ternyata sekarang macet,” dan bla bla bla. Yah, memang tidak mengherankan kalau Jakarta macet di Sabtu siang seperti ini.
Tiba-tiba, pintu kafe terbuka dan aku mengangkat kepala, berharap yang datang adalah Jess. Dan, ternyata bukan. Dua laki-laki masuk dan memilih tempat duduk tepat di sebelahku. Mereka terlihat sebaya denganku. Mereka berbicara, tertawa, melihat menu di kafe, memilih sebentar, memanggil pelayan, dan kembali berbicara dan tertawa.
Aku berpikir, “Ayolah, Jess. Dimana kamu? Lama sekali. Kau tidak mungkin membiarkanku sendirian di kafe ini lebih lama lagi.”
Aku menatap sekeliling kafe. Selain aku, ada cukup banyak orang disini. Dua laki-laki sebaya yang baru masuk tadi, pasangan muda-mudi mahasiswa, dua pria rekan bisnis yang sibuk dengan Blackberry dan notebook mereka, dan tiga orang gadis sebaya denganku yang sedari tadi tidak pernah kehabisan bahan bicara.
Aku menyedot milkshake vanila-ku lagi sampai habis. Aku menatap gelas kosong yang hanya bersisa busa-busa putih itu dengan sebal. Segera saja aku mengangkat tangan, memanggil pelayan, memesan air mineral. Aku meraih ponsel dari dalam tasku, mengeluarkan, menekan tombol bergambar telepon hijau, menekan tombol bergambar telepon hijau lagi, mengangkat ponsel sampai ke sebelah telinga kananku, mendengarkan nada sambung, dan.... akhirnya tersambung.
“Jess, beritahu aku bahwa kau sudah sampai,” ucapku setengah sebal.
“Aku sedang di eskalator sekarang. Bisakah kau tenang sedikit?” Jess terdengar kesal.
Aku memutar bola mata sebal.
“Nah, aku sudah melihatmu sekarang. Benarkan aku sudah sampai?” Jess melambaikan tangannya kepadaku dari luar kedai. Aku tersenyum tipis, dan segera menutup ponsel flip kuning yang kupegang, memasukkannya ke dalam tas lagi.
“Kau. Lama. Sekali.” Ucapku ketika Jess duduk di depanku.
“Astaga, maafkan aku,” pinta Jess sambil mengatur napasnya.
“Ya ya, cepatlah pesan makanan, kita makan, lalu segera nonton. Aku sudah membeli tiket, film-nya dimulai—,” aku melirik jam tangan merah yang melingkar manis di pergelangan kiriku, “—empat puluh lima menit lagi.”
“Baiklah. Kau sudah makan?” tanya Jess sambil memilih menu.
“Belum.” Aku segera saja mengangkat tangan, memanggil pelayan, memesan lasagna ukuran medium untukku, satu lagi milkshake vanila untukku, spaghetti carbonara untuk Jess, dan fruit punch juga untuk Jess, dan setelah menyatat pesanan kami, pelayan itu pun pergi.
“Tahukah kau? Aku sudah mengantri sedari pagi untuk mendapatkan kursi yang paling pas di bioskop ini pada hari pertama penayangan film yang sudah kutunggu sedari tahun lalu ini. Dan, setelah berhasil mendapatkannya, kau membuatku menunggu lagi di sini selama—,” aku melirik jam tanganku lagi, “—tiga puluh menit.”
“Yaa, aku tahu, aku sangat tahu. Dan, aku kan sudah minta maaf sedari tadi, mana aku tahu kalau ternyata Jakarta macet? Seharusnya orang-orang belum keluar rumah siang-siang seperti ini. Berhentilah bersikap menyebalkan!” kata Jess. Dia menghempaskan tubuhnya pada sandaran sofa.
Aku menghela napas. Meletakkan siku kiriku di meja, dan menatap ke arah dua pemuda sebaya itu. Dan, aku kaget.
Aku memperhatikan dua pemuda itu. Yang satu, kepalanya botak—hanya menyisakan sedikit rambut yang tajam kalau dipegang itu—badannya agak gendut, namun tidak terlihat karena di sangat tinggi, sepertinya. Yang satu lagi, berkacamata, rambut panjang lurus panjang hampir seleher, dan berponi, dan tinggi juga. Dua-duanya sipit. Sama-sama putih. Yah, menurut pendapatku, mereka berdua tampan (bukan keren, bukan ganteng, tapi tampan. Jangan tanya kenapa aku menggunakan kata tampan).
Oh ya, sudahkah aku memberi tahumu mengapa aku kaget? Belum? Baiklah, maukah kau tahu? Mau? Simaklah lebih lanjut...
Ada satu pemuda yang menarik perhatianku diantara mereka berdua. Tahukah yang mana? Yang botak? Bukan, bukan. Yang satunya, yang berkacamata itu. Iya, dia. Mau tahu alasanku? Baiklah...
Entah mengapa, rasanya wajah itu sangat menarik. Aku tidak bisa mengalihkan pandanganku darinya, tidak bisa menarik tanganku dari atas meja, tidak bisa bergerak, tidak berkedip, tidak bernapas untuk beberapa saat. Hanya beberapa saat, sampai pemuda berkacamata itu menoleh ke arahku, dan sedikit kaget, mendapati ada gadis yang menatapnya sampai seperti itu. Dia tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Aku mengerjapkan mata, menarik tanganku dari atas meja, bernapas, dan membalas senyumnya, lalu beralih menatap Jess, yang ternyata sedari tadi sedang memperhatikanku yang sedang memperhatikan pemuda di seberang.
“Siapa-dia?” tanya Jess penasaran. Matanya langsung berbinar-binar. Dasar tukang gosip.
Honestly?” tanyaku, Jess mengangguk cepat. “I don’t know, Jess.” Aku mengangkat bahu.
Jess memutar bola matanya. “Then, kenapa kamu bisa lama memperhatikannya? Kamu sudah kenalan yaa sama dia sewaktu aku belum sampai disini?” tanya Jess semangat.
“Tidak, Jess. Aku tidak tahu siapa dia. Aku tidak tahu namanya,” jawabku, meyakinkan Jess.
“Nomer teleponnya?” tanya Jess lagi.
“Namanya saja tidak tahu.”
Jess terdiam sebentar. Menatapku. Aku agak risih juga sebenarnya ditatap seperti itu. Pasti sebentar lagi dia akan minta diceritakan ini-itu. Aku memang tidak bisa menyimpan rahasia lama-lama dari Jess.
“Ceritakan padaku,” ucap Jess. Nah kan, benar saja.
Pelayan datang, membawakan pesananku dan Jess, kemudian pergi.
“Baiklah. Jangan tertawakan aku.”
Cross my heart.” Jess membuat tanda silang dengan telunjuknya di dadanya.
“Entahlah, Jess, sejujurnya aku juga tidak mengerti. Aku bahkan tidak tahu dia, tidak tahu namanya, kenal saja tidak, dan baru pertama kali bertemu. Tapi, aku merasa.... seperti aku pernah bertemu dengannya. Rasanya senang, nyaman. Pernahkah kamu merasa seperti itu?” Jess menggelengkan kepalanya. Aku menghela napas panjang, “Berarti ini memang aneh. Belum pernah aku seperti ini sebelumnya.”
“Sudahlah, masalah itu nanti saja. Masalah perut yang harus ditangani lebih dulu.” Jess tersenyum, dan mulai mengambil garpunya, dan menyantap spaghetti carbonara-nya.
Aku memutuskan mengikuti sarannya dan segera saja menyantap lasagna pesananku.


Selanjutnya: Part 3

Saturday, February 26, 2011

short story - part 1

Cerita ini sudah lama sekali. Kejadiannya, tepat sekali satu tahun dengan hari ini. Maukah kamu membacanya? Cerita yang sudah terlewatkan ini? Tidak? Kau bisa pergi kalau begitu. Adakah yang mau? Oh, ada? Baiklah, mari kita mulai dari.... awal.

18 Mei 2010, 11:17

“Aww!!” aku mengelus hidungku yang baru saja menabrak punggung orang di depanku yang berhenti mendadak. Orang itu menoleh dan sepertinya menatapku yang masih mengelus hidungku.
“Maaf. Maafkan aku. Apakah kau baik-baik saja?” tanya orang itu, yang ternyata laki-laki. Dia menunduk untuk menjajarkan wajahnya dengan wajahku.
Aku menatapnya baik-baik. Matanya.... hidungnya.... mulutnya.... rambutnya.... dan akupun menyadari sesuatu bahwa dia tampan. Kulit wajahnya yang putih mulus, tanpa ada cela satupun. Matanya yang sipit dan gelap menatapku. Hidungnya yang mancung. Mulutnya yang tersenyum. Rambutnya yang hitam gelap dan lumayan panjang, dibentuk model boyband Korea, lurus sampai leher dan berponi samping.
“Hei...” diapun menyadarkan aku dari lamunanku. Aku tersentak kaget. “Apakah kau baik-baik saja?” ulangnya.
Aku menatapnya dan mengangguk sambil tersenyum. “Hidungku hanya sedikit sakit. Selebihnya, aku baik-baik saja.”
Cowok itu tersenyum, kemudian dia menegakkan badannya. Dan aku segera menyadari sesuatu, dia tinggi sekali. Mungkin dua puluh senti di atasku. Aku terlihat begitu kecil di sebelahnya. Kemudian dia menatapku lagi sambil tersenyum. Oh, astaga! Kenapa senyumnya bisa terlihat begitu menawan? Akupun dapat merasakan jantungku berdegup dua kali lebih kencang dari biasanya.
“Baiklah, sekali lagi maafkan aku.” Aku hanya mengangguk sambil tersenyum, karena sudah tidak bisa lagi memikirkan apa yang harus kukatakan. Cowok itu tersenyum lagi, dan kemudian mengacak rambutku di puncak kepala sebelum pergi.
Aku tertegun sampai tidak bisa berpikir apapun. Tangan kiriku bergerak menyentuh puncak kepalaku, tempat yang baru di sentuh cowok tadi, sambil tersenyum senang. Untuk beberapa saat, aku tidak bergerak, masih berdiri di tempat yang sama, masih memegangi puncak kepalaku. Mungkin aku akan terus begitu sampai beberapa menit, kalau saja ayahku tidak segera memanggilku untuk makan siang bersama para undangan di sebuah ruangan bersama.
Dan di tempat makan itu, ketika aku dan keluargaku serta beberapa teman ayahku duduk mengelilingi meja bundar untuk makan siang, aku melihat cowok itu lagi. Sedang makan di luar ruangan, bersama dua orang temannya. Tapi sayangnya, dia tidak melihat ke arahku.
Mulai hari itu, aku benar-benar mensyukuri pekerjaan ayahku, yang merupakan seorang konsultan museum, dan biasa dipanggil untuk menjadi moderator dalam acara-acara seputar ke-museum-an, termasuk acara hari ini.


selanjutnya: Part 2

Monday, September 14, 2009

sahabat

kata sahabat adalah sebuah kata yang menandakan bahwa manusia adalah makhluk sosial namun demikian besar arti sebenarnya dari sebuah persahabatan sehingga membuatnya begitu berarti. kadang sahabat dapat membuat hari-hari yang kita lalui benar-benar indah dan memiliki banyak cerita, namun kadang juga sahabat membuat kenangan terburuk untuk kita sepanjang hidup.

tetapi kadang kala juga sahabat bisa berakhir indah atau bisa juga buruk, saya mungkin punya sebuah persepsi bahwa persahabatan tidak boleh diakhiri dengan sebuah kata cinta, dan persepsi itu sudah menjadi prinsip semenjak saya mengenal arti persahabatan.

namun, saya juga tidak bisa pungkiri bahwa hal yang bertentangan tersebut banyak terjadi disekitarku. dan harapku saya tidak menjadi bagian dari itu, sebab saya ingin menempatkan arti sahabat sebenar-benarnya sahabat, walaupun banyak cerita negatif yang mendekatkan saya akan hal cinta sesama sahabat…
untuk saya sahabat adalah sahabat, dan sahabat terbaik adalah sahabat yang tau kapan dia atau kita membutuhkannya.

::butuh waktu yang lama untuk membangun sebuah persahabatan, tetapi hanya butuh waktu singkat untuk menghancurkannya::