“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah." ― Pramoedya Ananta Toer
Sunday, May 12, 2013
Home Made Flower Crochet by Mother
So, this is my mother's flower crochet. It's a brooch. And now she's trying to sell it for Rp 25.000. I'm happy that I could help her, because this is her hobby right now, and it means a lot to her. Are you interest in buying one or two? :D Comment below for my contact. Thanks :)
Labels:
brooch,
crochet,
flower,
flower crochet,
hobby
Saturday, March 30, 2013
Lima Huruf
Jam dinding berbentuk kepala
Hello Kitty dikamar Neyza sudah menunjukkan pukul 8 malam. Hari ini dia
berhasil menghindari Aji ketika jam istirahat maupun pulang sekolah. Mengingat
kemarin dia nggak datang ke tempat janjian mereka (lagi), membuat dada Neyza
sesak. Sudah beberapa kali Aji batal datang ketika mereka janjian.
“Masa dia tidak tahu sudah
menyakitiku sampai begini? Harusnya dia mengerti. Kitakan sudah berpacaran
hampir empat bulan, tidakkah itu cukup? Dan dia nggak baru mengenalku. Kami
teman sejak SMP, lumayan dekat, malah. Masa dia nggak cukup mengenalku. Apa
mau... putus?” Neyza menggelengkan kepalanya.
Kenapa lima huruf itu bisa
melintas di pikirannya? Karena Neyza capek. Dia capek menjadi pihak yang terus
mengalah dan yang harus mengerti. Kapan giliran Aji yang mengalah dan Neyza
yang dimengerti?
“Apa aku harus memberinya
kesempatan lain?” Tapi, ini bukan pertama kalinya dia lupa datang pada hari
janjian kami. Sebelumnya lebih parah. Aji malah main PS di rumah Diaz ketika
seharusnya mereka merayakan hari jadi tiga bulan. Neyza kesal bukan main dan
mendiamkan Aji selama seminggu saat itu. Dan, itu baru terjadi dua minggu yang
lalu. Bagaimana dia bisa mengulangi kesalahan yang sama dalam waktu dekat?
Neyza terlalu capek untuk
memikirkan segala kemungkinan. Dia punya terlalu banyak pertanyaan untuk Aji. Tidak
akan muat 1000 karakter yang disediakan ponselnya untuk SMS. Pulsanya yang
tersedia saat ini juga tidak cukup untuk menelpon Aji. Ngomong-ngomong, kemana
cowok itu? Kenapa dia tidak
SMS atau menelponnya? Neyza kangen, tapi terlalu gengsi untuk menghubungi
duluan. Apalagi dia sedang kesal. Neyza menggelengkan kepalanya. Capek berdebat
dengan pikirannya sendiri. Dia ngantuk. Satu hal pasti, Neyza tidak mau putus sama Aji.
***
Mereka sekarang berada di
teras rumah Neyza. Aji berhasil memaksa Neyza untuk diantarkan pulang olehnya.
Dan sekarang, Aji masih memohon maaf darinya, padahal Neyza sudah capek
mendengar semua kata-kata Aji.
Neyza menghela napas panjang.
“Kenapa, Ney? Kamu capek?” tanyanya menatap khawatir ke arah Neyza. Neyza
menggeleng.
Aji menyesal. Dia tahu itu.
Dia telah membuat Neyza sakit hati (lagi). Sebelumnya juga pernah begini,
bahkan lebih parah. Aji capek, Neyza apa lagi. Tapi Aji tahu, ini semua
salahnya. Dia selalu menjadi pihak yang bersalah. Aji sayang sama Neyza, tidak perlu dipertanyakan. Kenapa begitu susah
rasanya untuk mengingatkan dirinya setiap mereka ingin jalan.
“Jangan diulang lagi yaa, Ji.
Aku capek.” Neyza menghela napas. Terasa sesak didada Aji melihat Neyza begitu
tersakiti.
Dia tersenyum lemah, menatap
gadis di depannya itu. “Aku nggak akan ngulang lagi, Ney. Janji. Nggak
akan…”
“Jangan! Jangan bikin janji
kalau kamu gak bisa nepatinnya, Ji. Aku capek dikasih janji terus sama kamu.
Kalau udah begitu, aku lagi kan, yang mengalah? Aku lagi kan, yang harus
mengerti kamu? Kapan giliran kamu yang mengalah dan aku yang dimengerti, Ji?”
Neyza segera menghapus air matanya yang mengalir.
Aji terperangah. Harusnya dia menyadari
itu.
“Apa begitu susah untuk kamu,
ngertiin aku? Kenapa kamu nggak sadar? Aku sayang, Ji, sama kamu. Aku nggak mau kayak gini ke kamu. Tapi, aku juga
harus mikirin perasaan aku, kan? Aku nggak pernah minta banyak, Ji, dari kamu.
Aku nggak pernah minta beliin barang mahal. Aku gak pernah minta kamu selalu
SMS atau telepon aku. Aku gak pernah maksa kamu untuk dateng ke rumah aku
setiap malam minggu. Tapi, semua itu kamu lakuin kan? Kamu beliin aku boneka
yang harganya ratusan, padahal aku gak minta itu, Ji. Oke, aku memang seneng
kamu baik sama aku. Tapi, giliran aku minta satu hal aja sama kamu, kenapa
susah dilakuin, Ji?”
“Kamu minta apa, Ney?” tanya
Aji, suaranya serak. Susah payah dia menahan nangis di depan Neyza. Ingin
rasanya dia berteriak, atau memukul sesuatu untuk menenangkan hatinya.
“Aku minta kamu nepatin janji
kamu.” Aji melengos. Dia tak menatap mata Neyza sekarang. Neyza benar-benar
memukul kelemahannya.
Aji tahu benar dia sudah
sering mengecewakan Neyza, bahkan sudah pernah sebelum cewek itu menjadi
pacarnya. Tapi Aji nggak pernah menyangka ternyata Neyza begitu tersakiti.
Kalau Aji melupakan janji dengan teman-temannya… Aji tersentak. Neyza bukan
temannya. Dia pacarnya. Harusnya dia lebih memahami Neyza. Neyza nggak bisa
disamakan dengan teman-temannya. Aji menatap Neyza. Mungkin dia memang nggak
akan bisa memahami Neyza. Kalau memaksakan, Neyza akan lebih tersakiti.
“Mungkin… sebaiknya kita putus
aja, Ney. Aku nggak mau bikin kamu tambah sakit hati. Mungkin, aku memang nggak
bisa mengerti kamu. Kayaknya, lebih baik kita putus.”
Neyza tersentak. Harusnya nggak kayak gini, Ji… Tapi suaranya tidak bisa
keluar. Lelah, Neyza memutuskan mengangguk.
Dengan berat hati Aji bangun. Berjalan ke arah
Neyza, yang sedari tadi berdiri di dekat pilar. Dia memeluk Neyza, untuk terakhir kali.
Dan mencium kening cewek yang disayanginya itu. Aji berjalan menjauh, nggak mungkin dia nangis di depan Neyza. Mungkin ini memang yang terbaik.
Neyza pasti bisa lebih bahagia, pikirnya.
Sunday, March 3, 2013
Selintas Sejarah Secercah Asmara - Bagian 1
Museum
Bank Indonesia. Berada di sini lagi mengingatkanku akan kenangan setahun lalu. Terjadi
sesaat, namun tetap tinggal sampai sekarang. Sudah satu tahun berlalu, padahal.
Sebutlah aku bodoh, karena masih mengenangnya sampai sekarang. Padahal belum
tentu dia mengingatnya sekelebat pun. Aku tak pernah tahu namanya, hanya
cirinya, dan wanginya yang khas. Yang entah kenapa, tak bisa hilang dari
ingatanku.
Tiba-tiba
kudengar suara memanggilku, menyadarkan lamunanku.
“Ngelamun
terus. Aku panggil berkali-kali, tapi kamu diam aja,” keluh Diah, “Mikirin
siapa sih? Cowok itu lagi?”
Aku
hanya bisa tertawa kecil. Tak membenarkan, tapi Diah tahu. “Udahlah,
buang-buang waktu aja. Tahu namanya juga gak…!”
Memang
benar apa yang dikatakannya. Dasar, terlalu lama rupanya aku berteman dengannya.
Tak heran Diah tahu perasaan dan pikiranku, walau yang tak terucap sekali pun.
Kami telah berteman sejak masih mengenakan seragam putih-merah, sampai
sekarang, ketika kami sebentar lagi terlepas dari kewajiban belajar dua-belas
tahun. Kami terus berteman, meski beda jurusan. Diah di IPS, sedang aku di IPA.
“Udahlah,
yuk, sepertinya Kak Bayu sudah menunggu. Kita janjian di taman, kan?” Kuraih
lengannya dan segera berjalan menuju Taman Fatahillah, mencari Kak Bayu,
seorang teman sesama pecinta museum.
Menghabiskan
sore hari di Kota Tua benar-benar menyenangkan. Tempat yang tepat untuk melepas
penat sekolah. Seminggu penuh berkutat dengan hukum-hukum fisika, reaksi-reaksi
kimia, pola hereditas, dan integral, dalam menghadapi Ujian Akhir Semester. Begitu
mendapat ajakan untuk menghabiskan hari Sabtu di Kota Tua, aku tak berpikir dua
kali.
Aku suka
Kota Tua. Suka sejarah yang ada di baliknya. Setiap gedung di sini punya cerita
tersendiri, yang takkan pernah habis dimakan waktu. Aku menyukai sejarah.
Selalu ada peristiwa untuk dikenang, untuk dipelajari agar tak mengulang kesalahan
yang sama.
Kucoba
mengenyahkan lamunan dari kepalaku. Menyeberang jalan di depan Museum Bank
Indonesia perlu konsentrasi. Sepeda motor, bajaj, angkot, bis kota, dan aneka
kendaraan yang tak kenal sabar, berebut jalan searah yang cukup lebar. Menyusur
jalan di antara gedung-gedung tua, Taman Fatahillah mulai nampak.
Penuh
suara dan lalu-lalang orang. Pelajar mengisi liburan, gerombolan punk mencari identitas, anak-anak
singkong bersepeda, dan para pedagang yang berupaya mengais keuntungan. Beberapa
turis bule melintas di ujung
seberang, menuju Café Batavia. Kafe yang cukup menarik, dua lantai dengan dekorasi
luar didominasi warna hijau. Ada live
music pada jam-jam tertentu. Aku pernah ke sana sekali, bersama Ayah dan
teman-temannya. Dekorasi interiornya cukup megah, dengan mebel berkelas. Namun
ketika melihat menu yang ditawarkan berikut harga yang tertera, aku langsung
berpikir, tak akan mungkin aku kembali ke sini hanya dengan teman-temanku. Tak
cocok untuk kantong pelajar.
Memang bukan
Café Batavia tempat kesukaanku di Kota Tua. Tapi Taman Fatahillah, lapangan
besar di depan Museum Sejarah Jakarta. Riuh-ramai beraroma klasik. Banyak
pedagang menjajakan aneka barang, mulai dari pedagang makanan, pakaian, sampai
aksesoris. Harga yang ditawarkan pun tak mahal. Kau bisa dapatkan seuntai kalung
hanya seharga sepuluh ribu rupiah. Pas untuk kantong pelajar. Banyak juga yang
menyewakan sepeda ontel. Ada yang untuk sendiri, bisa juga berdua, bahkan
bertiga. Naik sepeda ontel tetap terasa menyenangkan, bahkan bagi yang sudah
pernah mencobanya sekali pun.
Banyak
juga yang melakukan atraksi di lapangan ini. Selalu ada setiap malam, apalagi
ketika hari-hari libur. Banyak orang datang untuk menonton, tapi tak sedikit
juga yang datang hanya untuk mencari makanan, melihat-lihat jualan, atau sekadar
menghibur diri. Lapangan itu benar-benar seperti magnet, yang bisa menarik
orang-orang di sekitarnya. Tanpa ada atraksi sekali pun, kurasa mereka akan
tetap datang juga ke Taman Fatahillah.
Lagi-lagi,
Diah menyadarkanku. “Bengong lagi? Mikirin apa sekarang?”
Aku
tersenyum. “Sore ini, Kota Tua kelihatan indah banget ya, Di…”
Diah
mengerutkan kening, lalu menatap Museum Fatahillah di depannya. “Bukankah
memang selalu indah? Coba kamu lihat langitnya. Begitu biru, apalagi dipadukan
dengan awan putih yang terlihat begitu halus.” Diah tiba-tiba menghela napas
panjang. “Coba aku bawa kanvas... Setidaknya, buku sketsa deh…” lanjutnya.
Aku
tertawa. Temanku yang satu itu memang seorang pelukis. Dengan mudah dia bisa terinspirasi
benda-benda di sekitar. Biasanya, Diah selalu membawa buku sketsanya ke mana pun
pergi. Aku juga tak tahu, kenapa dia bisa melupakan benda yang satu itu, yang
katanya merupakan separuh jiwanya.
“Simpan
dulu aja imajinasimu barusan. Nanti, baru dituangkan di rumah.”
Diah
tersenyum seraya mengerling ke jam tangannya, “Sudah jam empat lewat nih, Kak
Bayu di mana, ya?”
Belum
sempat aku menjawab, sebuah tangan sudah menepuk pundakku. “Hai! Sudah lama
nunggu, ya?” Kak Bayu tiba-tiba sudah berada di belakang kami. Mahasiswa
arsitektur semester lima, yang suka ke Kota Tua, katanya untuk belajar dari
keindahan bangunan-bangunan lama.
“Kak!
Ke mana aja? Kami sudah nunggu lama di sini…” Diah, seperti biasa tetap
bersemangat.
“Maaf,
maaf… Tiba-tiba segerombolan remaja cewek menghampiriku, minta tanda tangan
serta foto bareng. Padahal aku sudah pakai kacamata hitam ini, apa masih
kurang?” Kak Bayu terlihat lelah, bisa kubayangkan. Kami malah tertawa.
Kak
Bayu adalah seorang penyanyi dan pemusik. Dia mulai terkenal beberapa bulan
lalu, ketika video dia bernyanyi
sambil bermain gitar diunggahnya ke Youtube.
Lagu yang dinyanyikan memang lagu yang dikenal anak muda sekarang, Sempurna oleh Andra and the Backbone. Cewek-cewek
dibuatnya meleleh dengan suara dan gitarnya itu. Tambahan lagi wajahnya pun masuk
kategori “ganteng”. Kak Bayu memang keturunan Belanda-Jawa.
Kami
bertemu di Facebook. Aku, Diah, dan
Kak Bayu tergabung dalam komunitas pecinta museum. Ketika diadakan pertemuan anggota,
Diah baru menyadari, bahwa Kak Bayu yang sering chat dengannya, adalah Bayu yang “itu”. Kak Bayu tak pernah
memasang fotonya sebagai profile picture.
Selalu foto alam Indonesia. Diah langsung melaksanakan sesi tanya-jawab dengan
idolanya itu. Pembawaan Diah yang selalu segar dan bersemangat, membuat Kak
Bayu yang pendiam jadi ikut bergabung denganku dan Diah. Sejak itu kami jadi
dekat. Meski berstatus pacaran dengan Farid, teman sekelasnya, namun Diah
beberapa kali mengungkapkan, dia tertarik juga dengan kak Bayu. Dasar Diah, selalu
kelewat aktif.
“Dari
sini, kalian ada rencana ke mana?” tanya Kak Bayu.
“Aku
sih langsung pergi lagi, Kak. Nanti Ibu jemput. Kamu gimana, Kar?” Diah
bertanya padaku.
“Gampang
Di, aku bisa pulang naik bus kok.” Diah kadang terlalu khawatir kalau aku pulang
malam, dan sendirian.
“Kamu,
Kak? Nanti ada rencana pergi?” Diah kembali bertanya.
“Enggak
ada, Di. Nanti aku yang anter kamu aja, gimana, Kar?” Kak Bayu bertanya padaku.
Diah langsung senang.
“Iya,
benar! Kamu pulang sama Kak Bayu aja, oke? Biar aman, biar aku tenang juga,
ya?” aku jelas tak bisa berkata tidak, daripada Diah marah-marah.
“Memangnya
kalian memberiku pilihan lain?” Diah dan Kak Bayu malah tertawa.
Satu
jam selanjutnya kami habiskan untuk berkeliling Kota Tua dengan sepeda ontel. Berangkat
dari Museum Wayang, menyeberang ke Museum Seni Rupa dan Keramik, melewati
Stasiun Jakarta Kota, Museum Bank Mandiri, Museum BI, melintas Kali Besar,
Jembatan Kota Intan, Toko Merah, ke utara ke arah Museum Bahari dan Pelabuhan
Sunda Kelapa, balik ke Taman Fatahillah lewat Galangan Kapal VOC. Aku sampai
hapal jalannya. Tapi, aku tetap suka. Andaikan Kali Besar dibersihkan, sungguh,
tempat ini pasti akan semakin ramai. Yah, dengan bau kali yang kurang sedap ini
saja, sudah ramai.
Tak
lama setelah mengembalikan sepeda sewaan, Tante Ira, ibunya Diah, datang. Kami
bercakap sebentar, lantas mereka pergi. Menjenguk kerabat yang sakit, cerita Tante
Ira.
“Kita
mau langsung pulang juga, Kar? Atau kamu mau jalan lagi?”
Kulirik
jam, setengah enam. Lelah, tapi masih ingin di sini. Sebentar lagi lampu-lampu penghias
pohon-pohon akan menyala. Sudah sering ku melihatnya, tapi tetap suka.
“Mau
lihat lampu lagi?” ucap Kak Bayu tiba-tiba. Aku terkejut. “Aku sudah kenal
denganmu cukup lama untuk mengetahui itu, Kar.” Dia tertawa.
“Pikiranku
mudah dibaca, ya Kak?” Sungguh, ternyata bukan Diah saja.
Kak
Bayu hanya tertawa. “Cari tempat duduk yuk. Kamu lapar?” tanyanya.
Aku
menggeleng. “Belum, sepertinya.” Bunda selalu menyiapkan roti lapis dan snack untuk bekal jalan-jalan, sudah
kuhabiskan bersama Diah tadi siang.
“Tapi
dari tadi siang kamu belum makan, kan? Daripada sakit, Kar. Kalau sakit,
liburan di rumah doang, loh…” paksanya.
Liburan
di rumah sama sekali bukan ide bagus, apalagi untukku yang tak betah diam.
“Ya
sudah, yuk!” ajakku. Kak Bayu segera tersenyum.
“Kamu
itu, kalau gak dipaksa pasti gak bakal makan sampai besok deh…” Dia tertawa,
mengusap kepalaku sebentar sambil berjalan mendahului.
Aku
tertegun sebentar. Refleks, tangan kiriku bergerak memegang kepala. Kemudian
tersenyum, dan segera mengejarnya.
“Mau
makan apa? Ketoprak? Atau kwetiau?” tawarnya.
“Lagi
mau kwetiau, nih, kayaknya…”
Kami
masuk ke salah satu tenda makanan yang menjual nasi goreng, mie goreng, dan
semacamnya. Kwetiau untukku, nasi goreng untuknya, dan es jeruk untuk kami
berdua.
Kak
Bayu menceritakan pengalamannya bermusik. Dari ayahnya dia belajar tentang
kunci-kunci gitar, memainkan melodi yang indah. Dari ibunya dia belajar
bernyanyi, cara mengatur napas agar dapat mencapai nada tinggi dengan baik. Dia
bercerita, senangnya ketika berhasil memainkan satu lagu dengan gitar, berhasil
mencapai nada tinggi pertamanya.
“Lalu,
siapa yang punya ide untuk mengunggah video
Kakak ke YouTube?” tanyaku.
“Teman-teman
di kampus. Mereka yang semangat. Malah ada beberapa teman cewek yang bilang, kan biar punya temen artis gitu, kali aja
suatu saat kamu terkenal,” ceritanya sambil menirukan suara perempuan.
Aku
tertawa. “Yah, setidaknya kalau nanti kamu sudah benar-benar terkenal, aku
punya banyak foto kamu, Kak, jadi gak usah repot-repot kayak cewek-cewek tadi,
kan?”
“Wah
iya, benar juga. Asal jangan publikasikan foto-fotoku yang jelek ya, bisa
hancur citraku nanti…”
“Tadinya
sih gak kepikiran… Tapi karena kamu ingatkan, yah, itu bisa jadi pertimbangan
kalau kamu tiba-tiba jadi sombong, Kak… Hahaha…”
Setelah
beberapa saat berbincang tentang aneka hal, aku teringat. “Kak, aku belum
pernah lihat kamu nyanyi langsung, loh. Kapan-kapan, nyanyi untukku dan Diah,
dong…”
Kak
Bayu hanya tersenyum dan tiba-tiba berkata, “Sudah nyala lampunya tuh, Kar…”
Aku memandang
ke luar tenda, tertegun beberapa saat. “Indah ya, Kak. Aku selalu suka
melihatnya…” Tak ada jawaban. Aku menoleh, dan mendapati bangku kosong. Ke mana
dia pergi? Masa iya, dia tega meninggalkanku di sini sendirian? Masih
kebingungan, tiba-tiba ku dengar dia memanggil namaku.
Kak
Bayu menghampiri sambil membawa gitar. “Katanya, kamu minta aku nyanyi, kan?
Kebetulan ada gitar, nih…”
Aku
tertegun, masih tak percaya dia mengabulkan permintaanku tadi. Kak Bayu mulai
memainkan gitarnya, mendendangkan lagu yang membuatnya dikenal banyak orang.
Kau begitu sempurna
Di mataku kau begitu indah
Kau membuat diriku
Akan selalu memujamu
Di setiap langkahku
Ku kan selalu memikirkan dirimu
Tak bisa ku bayangkan
Hidupku tanpa cintamu
(Sempurna
– Andra and The Backbone)
Suaranya
indah mengalun. Aku terdiam. Setelah dentingan terakhir dipetiknya, terdengar
banyak tepuk tangan. Ternyata Kak Bayu sudah menarik banyak penonton. Dia
tersenyum ke arahku, lantas menghampiri beberapa pengamen dan mengembalikan
gitar itu.
“Bagaimana
kamu bisa meminjam gitar itu?” aku benar-benar heran, sungguh. Ini orang apa
tidak punya malu?
“Aku
sewa dari pengamen-pengamen itu. Kan, kamu bilang mau dengar aku nyanyi
langsung. Aku sudah kabulkan, senang kan?”
Aku
terkejut. Senang, malu, bahagia. Aku tersenyum. “Kak, terima kasih. Sungguh. Baru
kali ini, ada yang menyanyikan lagu khusus buatku. Kamu yang pertama, loh…”
“Iya?
Wah, aku tersanjung, kalau begitu…” dia tertawa.
“Kak,
kamu…tadi itu, apa gak malu? Dilihat banyak orang gitu…”
“Hey,
aku ini pemusik, penyanyi, kalau pemalu, bagaimana bisa dikenal? Lagipula, kan
kamu yang memintanya, Kar…”
Lagi-lagi
aku dibuatnya terkejut. Aku terdiam, penuh rasa berkecamuk.
“Kar?”
Kak Bayu melambaikan tangannya di depan wajahku. Aku tersadar. “Jangan melamun,
sudah malam. Kamu udah capek?”
Aku
rasanya sudah tak sanggup mengucap apapun. Jadi, aku mengangguk.
“Pulang
yuk!” Kak Bayu beranjak dari kursinya. Ketika aku mengeluarkan dompet, dia
malah menggeleng, dan segera membayar pesanan kami.
Kak
Bayu membiarkanku berjalan duluan. Aku masih terkejut. Bahkan tak sanggup
mengucap terima kasih. Kenapa tiba-tiba ada rasa yang berbeda? Seharusnya
tidak. Kak Bayu memang ganteng, bersuara indah, trampil bermain gitar. Tapi, selama
ini biasa saja.
“Kar,
awas!” Kak Bayu menarik lenganku. Hampir aku tertabrak sepeda. Rombongan sepeda
ontel itu tak terlalu peduli, lewat di sisiku. Tiba-tiba, aroma wangi yang
tertanam di memoriku, semerbak memenuhi udara sore. Walau hanya tampak
punggungnya di atas sepeda ontel, tapi serasa ku kenal betul pemilik aroma
wangi ini. Museum BI, setahun lalu.
“Mikirin
apa sih? Sampai gak sadar jalan gitu. Bahaya tau.” Kak Bayu sedikit marah.
Aku
berusaha menyadarkan diri. “Maaf, benar-benar gak tau kenapa … Maaf, Kak…”
Dia
menghela napas. “Yang penting kamu baik-baik aja sekarang.”
Kak
Bayu berjalan mendahului, membukakan pintu mobil untukku. Aku hanya bisa
tersenyum. Selama perjalanan pulang, kami tak banyak bicara. Suara gitar dan
nyanyian Kak Bayu, serta aroma wangi pemuda di Museum BI setahun lalu, seakan
memenuhi ruang mobil.
Sampai
di rumahku, setelah berpamitan dengan kedua orang-tuaku, ia segera kembali ke
mobilnya. Kami di teras depan, ketika dia bertanya, “Besok, kamu ada rencana
gak, Kar?”
Aku
berpikir sebentar, dan segera menggeleng. “Belum, Kak. Ada apa?”
“Main
ke Dufan, yuk!”
“Bukannya
udah pernah ke sana ya, Kak? Lagian pasti rame deh besok…”
“Iya
sih, tapi kan tetap seru. Makanya, kita pergi dari pagi, gimana?”
“Boleh
aja sih…” Entah kenapa aku mengiakan, padahal untukku Dufan cukup menakutkan. “Diah
boleh ikut?” tiba-tiba teringat temanku yang satu itu, dan aku juga merasa,
pasti akan canggung kalau hanya berdua.
Kak
Bayu terdiam sebentar, lalu, “Boleh, ajak aja. Kamu telpon aja sekarang.”
Aku
segera menekan tombol ponsel. Tak lama, suara Diah terdengar di ujung sana.
“Di?
Besok kamu ada rencana pergi gak? …. Ooh, gitu ya? Sampai malam? Oh, ya sudah
…. Iya, diajakin Kak Bayu ke Dufan …. Hahaha, ya sudah, …. jangan sedih gitu,
lain kali ikut yaa. Oke, daaah.” Aku pun memutus sambungan.
“Diah
mau ke mana?” tanya Kak Bayu.
“Ada
acara keluarga, di Bogor. Dia kesel banget kayaknya, gak bisa ikut besok.
Hahaha,” aku teringat Diah yang tiba-tiba histeris ketika kuberitahu rencana
besok.
“Aku
bisa membayangkan itu.” Kak Bayu tertawa. “Ya sudah, besok tetap jadi, kan?”
Aku mengangguk. “Aku jemput sekitar jam tujuh ya.” Lagi-lagi aku mengangguk.
“Langsung
tidur ya, biar besok gak capek. Selamat malam, Kar.” Kak Bayu pamit.
“Iya,
Kak. Selamat malam juga.” Aku tersenyum dan membukakan pagar untuknya.
Setelah mandi, tubuhku terasa segar, tapi hatiku masih pepat. Makan
malam berlauk cumi goreng tepung kesukaanku, tapi lidah tak bisa menikmatinya.
Untung perhatian Ayah-Bunda tersita oleh cerita adikku tentang pertandingan
pencak-silatnya tadi siang. Beralasan lelah, aku minta ijin tidur lebih dulu.
Ternyata sendiri di kamar tidur pun tak membantu. Dinding-dinding kamar
memantulkan suara Kak Bayu bernyanyi sambil bermain gitar, dari kisi-kisi jendela,
angin mengalirkan semerbak arowa wangi si pemuda Museum BI, entah siapa
namanya? Sementara di langit-langit, wajah Diah yang tersenyum riang membuatku
semakin sulit tidur. Namun akhirnya, tubuh lelahku tak kuasa menahan berat
mata.Selanjutnya: Bagian 2
Selintas Sejarah Secercah Asmara - Bagian Akhir
Aku
terbangun karena dering nyaring ponselku. Susah payah aku bergerak meraihnya,
dan melihat nama ‘Diah’ tertera di layar.
“Lari
pagi yuk, Kar!!” ujar Diah semangat di seberang.
“Di…
ini baru jam lima lewat sedikit loh. Aku masih ngantuk…” aku menguap, dan
memejamkan mata lagi.
“Ayolah,
Kar! Masa liburan malah malas-malasan gitu. Nanti Kak Bayu keburu diambil
orang, loh…”
“Diiii,
kenapa Kak Bayu terus sih???” aku langsung terjaga.
“Hahaha,
aku kenal kamu, Kartika. Aku tahu kok kalian makin dekat sekarang. Lagipula,
kalau kalian pacaran juga gak ada ruginya, kan?”
Aku
merutuk. Anak itu … Dia cenayang, sepertinya.
“Sudah,
ayo cepat bangun! Sebentar lagi aku dan Kak Bayu menjemputmu. Dandan yang
cantik yaa, hahaha. Daah!” sambungan diputus.
Diah
benar-benar deh…
Tapi,
aku mengakuinya juga. Sepertinya memang cukup terlihat dari gerak-gerik kami.
Aku segera saja membasuh muka dan gosok gigi. Kemudian sedikit menyiram badan
agar segar. Tidak perlu mandi, toh sebentar lagi juga lari, keringatan.
Aku
membuka lemari dan mendapati kaos yang kubeli samaan dengan Kak Bayu di Dufan
kemarin. Setelah menimbang cukup lama, aku segera memakainya.
“Cieee,
kalian kompakan gitu deh! Jodoh banget!” reaksi histeris dari Diah adalah yang
pertama kali kudengar ketika dia dan Kak Bayu memasuki ruang makan.
Aku
dan Kak Bayu hanya tertawa. Kami mengenakan kaos yang sama. Masing-masing pasti
tidak menduga akan seperti ini. Bagaimana pun aku tetap merasa senang. Ketika
melihat ke arah Kak Bayu, dia hanya tersenyum. Dan ketika mata kami bertemu,
aku segera mengalihkan pandangan. Namun dari sudut mata aku bisa melihatnya
tersenyum kepadaku.
Setelah
sarapan dan berpamitan, kami segera berangkat menuju Gelora Bung Karno di
Senayan. Jam masih menunjukkan pukul enam pagi ketika kami mulai berlari.
Banyak juga orang yang ikut berlari pagi itu. Tidak heran, memang masa liburan
anak sekolah.
Kami
mulai berlari mengelilingi stadion bola. Baru dua putaran, Diah sudah menyerah.
Kekenyangan, katanya. Dia memutuskan istirahat duluan, sambil duduk di pinggir.
Aku dan Kak Bayu melanjutkan berlari, menambah dua putaran. Ketika sudah
sama-sama lelah, kami beristirahat menemani Diah.
Ketika
sedang membeli minuman, kulihat Kak Bayu berjalan ke arah parkiran mobil.
“Dia
gak mungkin ninggalin kita, kan?” tanyaku ke Diah.
Diah
tertawa. “Ya enggaklah, Kartika. Aneh-aneh aja pikiranmu. Paling dia ngambil
barang ketinggalan di mobil.” Aku mengangguk-angguk setuju.
Tak
lama kemudian Kak Bayu kembali membawa gitarnya. Diah memekik kesenangan,
sedangkan aku hanya syok.
“Kak
Bayu mau ngapain, Di…” Diah malah menyuruhku untuk diam, kemudian dia
menghampiri Kak Bayu, mereka ngobrol sebentar, dan mereka menghampiriku.
“Kak,
kamu mau ngapain bawa gitar gitu?”
“Dengerin
dulu aja ya, Kar. Ini lagu buat kamu.”
Kak
Bayu kemudian mulai memetik gitarnya. Terdengar nada indah yang mengalun.
Sebuah lagu yang sepertinya kukenal.
Berjuta rasa
rasa yang tak mampu diungkapkan kata-kata
Dengan beribu
cara cara kau slalu membuat ku bahagia
Kau adalah
alasan dan jawaban atas semua pertanyaan
Yang
benar-benar ku inginkan hanyalah
Kau untuk
slalu di sini ada untukku
Maukah kau
‘tuk menjadi pilihanku
Menjadi yang
terakhir dalam hidupku
Maukah kau tuk
menjadi yang pertama
Yang slalu ada
di saat pagi ku membuka mata
Oh, izinkan
aku memilikimu, mengasihimu
Menjagamu, menyayangimu
Memberi cinta,
memberi semua yang engkau inginkan
Selama aku
mampu aku akan berusaha
Mewujudkan
semua impian dan harapan
‘tuk menjadi
kenyataan
(Pilihanku
- Maliq & D’essentials)
Seperti
sebelumnya, dia menarik banyak penonton di sekitar. Aku masih terkejut, dan
juga bahagia. Untukku, katanya? Ya Tuhan…
“Kartika
Aurora, maukah kamu jadi kekasihku?”
Aku
bingung. Sungguh. Rasanya selama setahun kemarin aku masih memikirkan Radit,
namun tiba-tiba Kak Bayu menyatakan perasaannya. Aku memang mulai bisa
merasakannya. Sikapnya kepadaku, selalu berbeda dari yang ditunjukkannya untuk
Diah. Selalu lebih manis.
Aku
menengok ke arah Diah, dia tersenyum seraya menganggukan kepala. Aku bisa
melihat wajah Kak Bayu yang terlihat cemas, menunggu jawabanku. Aku menarik
napas dalam-dalam, dan mengangguk yakin. Kak Bayu terlihat lega dan senang. Dia
tersenyum, dan meraihku dalam pelukannya. Banyak orang bersorak senang, Diah
juga.
“Kamu
membuatku cemas, Kar…” bisiknya.
“Salahmu.
Kamu yang membuatku malu, Kak,” balasku.
“Tapi
senangkan?” Kak Bayu melepas pelukannya. Aku mengangguk. “Oh iya, jangan
panggil ‘Kak’ lagi…” aku tertawa.
Diah
menghampiriku, memelukku erat. “Maaf ya Di…” bisikku.
“Gak
apa, aku kan punya Farid,” bisik Diah di telingaku, suaranya agak bergetar.
Selama
ini kami memang selalu bisa saling memahami. Tapi, sering kudengar cerita,
kehadiran seorang lelaki yang menghancurkan persahabatan dua orang perempuan.
Ah… pikiranku kembali terlalu jauh pergi.
Diah
beranjak dan gantian memeluk Kak… mm... Bayu maksudku.
Tiba-tiba
hatiku terasa lapang. Ini sungguh membahagiakan.
Tiba-tiba
juga, ada aroma wangi tertentu yang menyentuh hidungku, mengalir bersama angin
pagi. Entah kenapa, sosok Radit tiba-tiba muncul begitu saja di kepalaku.
“Sejarah tak pernah berjalan lurus, selalu ada
liku-liku. Itu yang membuatnya menarik,” ucapan Radit terngiang di telingaku.
Ah…
kenapa bahagia masih juga disertai galau.
Selintas Sejarah Secercah Asmara - Bagian 3
“Selamat
pagi, Kartika! Ayo bangun!”
Aku
mengerjap, berusaha membuka mata. Diah duduk di ujung tempat tidurku.
“Ayo
bangun! Hari ini kita mau ke Museum Nasional! Jadi, ayo bangun!”
“Hah?
Aku capek, Di…!”
“Gak
boleh gitu. Sekarang sudah hampir jam sembilan, Kar! Kak Bayu aja udah ada di
bawah tuh.” Mendengar nama itu, aku tersadar sepenuhnya.
“Kak
Bayu….ada di bawah? Di bawah? Di rumahku?”
Diah
hanya tersenyum dan beranjak ke luar kamar. “Buruan mandi…” serunya.
Dua
puluh menit kemudian aku sudah di meja makan, bersama Diah dan Kak Bayu.
“Tumben
cepet, Kar. Biasanya mandi sejam,” Diah menyindir. Aku hanya tersenyum.
Seperti
biasa ketika liburan, sarapan pagi itu gorengan dan teh manis hangat. Aku
paling suka tahu isi. Diah dan Kak Bayu lahap juga menghabiskan singkong dan tempe
goreng yang tersisa. Gorengan habis, kami berangkat.
Melintas
gerbang Museum Nasional, aku menengok ke taman depan, memandang ke patung gajah
kecil di atas menara batu. Kebiasaanku. Mengecek, masih adakah patung gajah di
tempatnya. Museum ini biasa disebut juga Museum Gajah, karena adanya patung
gajah kecil itu, hadiah dari Raja Thailand tahun 1871. Ini memang museum
pertama, dan yang terbesar, di Asia Tenggara. Koleksinya termasuk lengkap. Dari
jaman prasejarah sampai jaman kolonial. Banyak barang etnografi, benda-benda bukti
budaya dari Sabang sampai Merauke. Lebih dari sepadan dibanding harga tiketnya
yang cuma lima ribu rupiah.
Masuk
ke museum, aku segera ke bagian etnografi, berpisah dari Diah dan Kak Bayu yang
lebih suka ke gedung baru. Menurut mereka, penataan pameran di sana lebih
bercerita. Di gedung baru itu, aku paling suka lantai dasarnya. Bercerita
tentang manusia di Indonesia, dari yang purba sampai yang sekarang. Ada
panel-panel kaca besar-besar yang menceritakan sejarah manusia, dengan
ilustrasi gambar yang menarik. Diah juga sangat suka gambar-gambar itu,
sedangkan Kak Bayu lebih senang membahas cara penataannya. Aku tak terlalu
peduli, gimana cara menatanya, asalkan ceritanya menarik. Atau bendanya memang
unik.
Di
museum ini, kesukaanku adalah peta etnografi besar. Di sebelahnya, ada juga
peta Bahasa-bahasa Daerah di Indonesia, yang tak kalah besar. Aku selalu kagum,
mengetahui ada begitu banyak bahasa daerah di Indonesia, dan aku bisa melihat
seluruhnya dalam sebuah peta besar. Oh, betapa mudahnya mendapatkan informasi
sejarah di sini, di museum. Ada puluhan museum di Jakarta, belum semuanya bisa
kukunjungi. Museum adalah salah satu alasanku cinta kota Jakarta. Dan aku
sangat bangga karena bisa tinggal di Ibu Kota Negara.
“Besar
sekali, ya?” sebuah suara mengagetkanku. Aku menoleh, dan terkejut.
Seorang
pemuda sebaya berdiri di sebelahku, ikut melihat peta-peta di hadapan kami. Aku
mengenalnya. Suaranya, yang aku ingat dengan baik, dan wanginya yang khas, yang
tidak pernah kulupakan. Museum BI, setahun lalu.
Dia
menoleh, menatapku, dan terlihat berpikir. “Apakah kita pernah bertemu?”
Aku
terkejut. Tak sanggup berkata-kata. Apakah dia mengingatku? Mungkinkah?
Tanpa
menunggu jawabanku, dia menjentikkan jari sambil tertawa. “Ah! Benar juga! Kita
pernah bertemu, kan? Tahun lalu? Acara di Museum Bank Indonesia. Kau ingat?”
Bagaimana
mungkin aku lupa. Aku hanya tak bisa berkata. Berusaha mengendalikan diri,
akhirnya aku tersenyum, dan mengangguk.
“Iya,
benar. Kamu masih ingat ternyata.” Aku benar-benar tak dapat menyembunyikan
rasa senangku. Mukaku pasti sudah merah saat ini.
“Tentu
saja! Kita berbincang cukup lama saat itu, dan kamu jelas memiliki banyak
pengetahuan yang menarik. Pecinta sejarah, kah?”
“Tentu,
sejarah selalu menarik.” Dia tersenyum dan mengangguk setuju.
“Ah,
sebelum kelupaan lagi…” dia mengulurkan tangannya. “Radit.”
Aku
menatap uluran tangannya sebentar, sebelum menyambutnya, “Kartika.”
Setelah
itu, kami berbincang cukup lama. Radit ternyata menyenangkan. Dan kami menyukai
banyak bidang yang sama. Radit mahasiswa Antropologi semester ketiga. Lebih
muda dari kak Bayu, pikiranku tiba-tiba saja membandingkan keduanya.
Perbincangan
itu menarik, tapi aku banyak tergagap karena sibuk mengamati lawan bicaraku.
Kulit sawo matang, rambut agak panjang, alis hitam tebal. Matanya agak sipit,
tapi tatapannya jernih. Hidung tidak terlalu mancung, tapi dagunya tampak
kokoh. Bibir tipisnya berhias kumis yang tak terlalu tebal, dengan janggut yang
tampak samar. Agaknya beberapa senti lebih tinggi dari Kak Bayu, tapi lebih
langsing. Wanginya, ….weh, weh weh….
Aku
berusaha konsentrasi pada pembicaraan. Di Museum Bank Indonesia tahun lalu,
rupanya Radit jadi salah satu panitia Museum
Day, bersama teman-teman sekampusnya. Inetrnational
Museum Day, diperingati setiap tanggal 18 Mei. Saat itu seluruh museum di
seluruh dunia, serentak menggelar berbagai acara, dengan mengusung tema yang
sama. Aku datang ke acara itu bersama teman-teman komunitas pecinta museum.
Saat
ini Radit dan teman-temannya sedang membantu Museum Nasional, mendata ulang
koleksi mereka. Wah senangnya, bisa kerja di museum. Tiap hari bergumul dengan
sejarah dan budaya. Bertemu sejarah panjang bukti-bukti kehidupan manusia di
bumi. Mengungkap cerita di balik setiap benda.
Aku
tidak tahu sudah berapa lama kami berbincang, namun tiba-tiba segerombolan anak
lelaki memanggil Radit. Tak hanya lelaki, ada juga yang perempuan.
“Maaf,
aku harus tinggalkan kamu nih,” ujar Radit sambil tersenyum. “Jam istirahatku
sudah habis. Kamu sangat menyenangkan, Kartika, semoga kita bisa ngobrol lebih
banyak lagi nanti. Sampai jumpa lagi,” masih tersenyum, dan melambai sambil berjalan
menuju teman-temannya. Adakah di antara cewek-cewek itu, pacar Radit? Ah, apa
urusanku, kalaupun Radit berpacaran dengan salah satu teman kuliahnya. Mereka
menjauh, sementara wangi tubuh Radit masih semerbak di udara ruang etnografi.
“Sampai jumpa
lagi” apa itu artinya kami akan berjumpa
lagi? Semoga. Ya Tuhan, aku benar-benar senang, akhirnya bisa bertemu dengan
orang itu lagi.
“Ngapain
kamu senyum-senyum sendiri, gitu?” Diah tiba-tiba sudah berada di sebelahku, diikuti
Kak Bayu.
“DIIIII!!”
aku segera memeluknya. “Aku ketemu sama dia lagi.” Aku memekik kesenangan.
“Dia?
Dia siapa?” Diah tidak mengerti. Namun, ketika tak kunjung mendapat jawaban
dariku, dia menyimpulkan sendiri. “Serius kamu, Kar? Serius?!” Diah malah ikut-ikutan
tertawa senang.
“Namanya
Radit,” kataku ketika kami berdua sudah mulai tenang. “Emang kamu gak bisa
membaui wanginya?” tanyaku, “masih terasa koq…”
Diah
membulatkan mulutnya, “Cuma kamu yang bisa membaui wangi itu. Jangan-jangan
dia… “ Diah tak melanjutkan bicara, memilih menungguku melanjutkan cerita.
“Kalian
ngomongin siapa, sih?” Kami melupakan kehadiran Kak Bayu. Dia jelas tidak
tahu-menahu soal ini sama sekali.
“Sstt!”
Diah meletakkan telunjuknya di bibir, menyuruh Kak Bayu diam agar aku tetap
melanjutkan ceritaku. Kuceritakan kejadian yang baru kualami, ditambahi sedikit
cerita mengenai kejadian setahun yang lalu, agar Kak Bayu bisa mengerti.
Sore
itu, setelah merasa cukup di Museum Gajah, kami mengunjungi Monas. Sekadar
duduk-duduk di tamannya, karena untuk masuk dan naik ke puncak, antrian panjang
sekali.
Hampir
pukul empat, kami mulai kelaparan, sementara bekal makanan sudah habis. Kak
Bayu mengajak makan di dekat Sarinah, di sana banyak warung tenda yang tak
terlalu mahal, meski sore begini pilihan semakin sedikit. Kami memasuki warung
soto ayam, dan mulai menikmati hangatnya kuah soto di tenggorokan. Sambil makan
aku dan Kak Bayu membahas gedung Sarinah yang cukup bersejarah. Sementara Diah
berusaha mengalihkan pembicaraan ke masalah kuliner. Tentang aneka soto di
Nusantara.
Menjelang
magrib kami sudah di jalan pulang. Pertama kali mengantar Diah, karena rumahnya
berada di bagian depan kompleks perumahan kami. Kemudian ke rumahku, yang
berada agak di bagian belakang. Rumah Kak Bayu tak jauh dari kompleks perumahan
ini.
Saat
di rumahku, Kak Bayu tiba-tiba bertanya, “Cowok tadi, Radit itu, kamu sudah
lama suka sama dia?”
Aku
tertawa. “Kayaknya bukan suka sih, Kak. Mungkin awalnya iya, tapi setelah
ketemu lagi tadi, aku malah merasa lega. Mungkin selama ini cuma penasaran
kali, ya…”
Kak
Bayu mengangguk-angguk. “Ada apa sih, Kak?” Namun dia hanya menggeleng.
“Berarti
sekarang kamu lagi gak suka sama siapa-siapa dong?” tanyanya lagi.
“Kayaknya
sih begitu, deh. Ada apa sih, Kak? Bener deh.” Dia menggeleng lagi.
“Sudah
ya, Kar. Aku pulang dulu, kamu istirahat yang cukup ya. Selamat malam, Kartika.”
Kak Bayu mengelus kepalaku lagi, sebelum berjalan menuju mobilnya, dan
menghilang di remang senja.
Selanjutnya: Bagian Akhir
Selanjutnya: Bagian Akhir
Selintas Sejarah Secercah Asmara - Bagian 2
Sebelumnya: Bagian 1
Selanjutnya: Bagian 3
Esoknya,
Kak Bayu sampai di rumah pukul 07.02, tepat ketika sarapanku sudah habis. Setelah
berbincang sebentar dengan Ayah-Bunda, kami segera pamit pergi.
“Kamu gak takut tinggi kan, Kar?” Tanya Kak
Bayu ketika di mobil. Aku menoleh ke arahnya sambil nyengir. “Serius? Ya sudah,
nanti harus berani loh…”
“Kak…
jangan kejam begitulah terhadapku…” ucapku dramatis.
“Gak
kejam, cuma bantu mengurangi ketakutanmu,” senyumnya manis. Ya Tuhan…
Lagi-lagi,
tak banyak percakapan di mobil. Musik di radio yang mendominasi.
Memasuki
Ancol, aku mulai merasa takut. Makin dekat Dufan, makin takut. Ketika antri
tiket, aku benar-benar diam. Menjawab seperlunya jika Kak Bayu bertanya. Saat
masuk arena Dufan, kakiku gemetar. Tak sadar kuraih lengan Kak Bayu, mencengkeramnya
erat.
“Kak…
jangan naik yang aneh-aneh ya…”
Dia
hanya tersenyum. “Ada aku Kar, gak usah takut. Kora-kora, yuk!” Aku melotot,
tapi entah kenapa tak bisa menolak. Atau tidak mau. Aku ingin mempercayai
kata-katanya.
Akhirnya,
aku ikut saja mengantri. Aku yakin, wajahku sudah pucat pasi sekarang. Dan
karena masih pagi, antrian tak begitu panjang. Saat sudah duduk dan sabuk
pengaman sudah terkunci, aku menatapnya dengan mata berair. Rasanya benar-benar
ingin menangis.
Kak
Bayu mengelus kepalaku lagi. “Sshh, sudah, jangan nangis. Malu tahu, diliatin
orang. Berani kok, berani. Pegang tanganku sini. Kalo udah gak kuat lagi, tutup
mata aja, terus teriak yang kencang, ya…! Oke?” aku mengangguk saja. Ketika operator
mulai menyalakan mesin, tangan kananku sudah berpegangan kencang pada sabuk pengaman,
dan tangan kiriku mencengkeram kuat tangan Kak Bayu. Setelah beberapa menit,
aku benar-benar teriak kencang. Tanpa henti, sampai waktunya habis. Ketika
turun, aku merasa pusing luar biasa, dan Kak Bayu segera merangkulku ke tempat
duduk.
“Pusing
banget, Kar? Maaf ya, aku maksa kamu buat naik wahana kayak gitu…” Kak Bayu
memberiku sebotol air mineral dari tasnya.
Aku
menenggaknya, “Gak apa-apa, Kak. Aku juga sebenernya pengen nyoba, cuma selama
ini gak ada teman aja, makanya makin lama makin takut. Harusnya kamu bangga,
Kak. Cuma kamu yang bisa membuat aku yakin buat naik wahana kayak gitu.”
Kak
Bayu tersenyum. “Ya sudah, sekarang kita ke wahana yang ringan aja, yuk…” dia
mengulurkan tangannya. Ragu, tapi kusambut juga akhirnya.
Kak
Bayu membawaku ke Rumah Kaca, Rumah Miring, dan Rumah Boneka. Yang seperti ini,
mudah ku tangani. Kami memutuskan istirahat ketika jam menunjukkan pukul 12.40.
Setelah makan, aku malah mengantuk. Kak Bayu, yang sepertinya bisa merasakan
kantukku, mengajukan permintaan yang aneh. “Kar, roller coaster, mau ya?”
“Gak!”
tolakku mentah-mentah.
“Ayolah,
Kar. Roller coaster disini cuma
sebentar kok. Gak berasa deh, pasti. Setelah itu kita naik bianglala, gimana?”
“Bianglala?
Kak, itu penyiksaan untuk orang dengan phobia
seperti aku, tau…!”
“Kan
ada aku, Kartika.”
Kata-kata
itu, lagi. Aku ingin mempercayainya. Sungguh. Sebagian kecil dari hatiku tahu
Kak Bayu sungguh-sungguh ketika mengatakan itu. Terlihat dari sinar matanya.
“Atau
pemanasan di Arung Jeram dulu, gimana?” Seperti tersihir, aku mengangguk.
“Yuk!”
Dia segera meraih tanganku.
Aku
naik Arung Jeram tanpa rasa apapun, karena kepalaku dipenuhi bayangan tentang roller coaster. Ketika akhirnya kami
naik roller coaster, benar-benar seperti
mimpi buruk tak berujung. Walau hanya beberapa menit, berada di roller coaster untuk pertama kalinya sungguh
pengalaman tak terlupakan. Menyenangkan, memang, namun mendebarkan. Serasa
jantung loncat dari tempatnya. Turun dari wahana itu, Kak Bayu malah tertawa
senang.
“Tadi
benar-benar menyenangkan, Kar! Aku senang kamu berani.”
Benar
juga. Tumben aku berani. Pertama kali ke Dufan, aku menjauh dari semua wahana
menyeramkan itu. Aku juga tidak mengerti, kenapa sekarang berani mencoba.
“Bianglala!”
Belum sempat aku merespon, Kak Bayu sudah menarik tanganku, dan membawaku ke
wahana satu itu.
Aku
benar-benar takut. Tak terasa, tahu-tahu sudah berada di paling puncak. Meski
takut, aku berusaha memberanikan diri melihat ke luar. Indah memang, aku bisa
melihat Teluk Jakarta dari sini. Di sisi lain, deretan gedung-gedung tinggi di
langit senja Jakarta.
“Ada
keindahan yang hanya bisa dilihat dari ketinggian tertentu, Kar. Ini semua
sepadan kan, dengan mengatasi ketakutanmu itu?”
Aku
menoleh ke arahnya, tersenyum dan mengangguk. “Terima kasih, Kak.”
Turun dari bianglala, kami pergi ke toko cinderamata. Kami sepakat untuk
membelikan Diah oleh-oleh, karena dia tak bisa ikut. Di perjalanan pulang, aku
tertidur.Selanjutnya: Bagian 3
Subscribe to:
Posts (Atom)
